Index

services

about us

our scheduled

contact us

comment

 

Mengadopsi Kriteria Baldrige

  Pertama dimuat di Majalah Human Capital No. 24 - Maret 2006

 

Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excelence (MBCFPE) merupakan panduan

manajemen terbaik utnuk membuat sebuah perusahaan menjadi unggul, ekselen, atau kelas

dunia. Penghargaan (award) berbasis criteria Baldrige telah membuat daya saing Negara dalam

percaturan global meningkat. Jika mutu menjadi prioritas nasional, Indonesia harus segera

mengadopsinya.

 

Persaingan bisnis global sangat kejam. Sejarah telah membuktikan, kemenangan dalam

persaingan hanya bisa diperoleh perusahaan-perusahaan ekselen (Excellence Company).

Perusahaan-perusahaan Amerika telah banyak menjadi korban dari persaingan tersebut. Pada era

70-an hingga awal 80-an, pasar Amerika diserbu oleh produk-produk industri Jepang, dari

elektonika hingga otomotif. Pelan tapi pasti, produk-produk Jepang yang tadinya dianggap kelas

dua, berhasil mencuri pasar Amerika. Lama kelamaan, Jepang buakn lagi sekedar mencuri,

bahkan makin merebut pangsa pasar yang signifikan. Detroit (pusat produksi 3 besar raksasa

otomotif Amerika) panic. Perusahaan-perusahaan Amerika pun guncang.

Dibalik keberhasilan produk-produk Jepang tesebut, adalah orang Amerika juga arsiteknya,

yakni Edward Deming dn Joseph M. Juran. Mereka berdua memperkenalkan system

pengendalian kualitas menggunakan diagram control, teknik smpling statistic, dan analisis

ekonomi modern kepada para manajer Jepang setelah Perang Dunia II, sebagai bagian dari

program Jendral Mac Arthur untuk membangun kembali Jepang yang telah hancur akibat bom di

Hiroshima dan Nagasaki. Perusahaan Jepang kemudian memperkenalkan konsep QCC (Quality

Control Cycle) sebagai inti dari TQM (Total Quality Management), yang di Indonesia lebih

dikenal dengan GKM (Gugus Kendali Mutu). Konsep TQM disempurnakan dengan

memasukkan prinsip Kaizen, yaitu program perbaikan sepanjang waktu (continuous

improvement).

 

Selama dua decade, perusahaan Jepang terus berjuang meningkatkan kualitas produk/jasanya,

sementara perusahaan Barat nyaris terlena dengan kedigdayaannya. Sejak tahun 70-an, produk

perusahaan Jepang telah memiliki keuggulan daya saing yang bagus di pasar dunia.

Beberapa kalangan di Amerika tersentak dengan kemajuan cepat yang diraih produk atau jasa

perusahaan Jepang, walaupun banyak manajemen perusahaan Amerika belum menganggapnya

sebagai tren yang serius. Sebagian perusahaan menyadari bahwa situasi mulai berbahaya, tetapi

mereka juga tidak tahu harus berbuat apa. Pada awal 80-an, media masa Amerika mulai

menyoroti kemajuan besar produk perusahaan Jepang itu. Stasiun televise NBC, misalnya,

menayangkan program khusus dengan judul "If Japan Can, Why Can't We?", dengan

menampilkan Edward Deming yang saat itu sudah berusia 80 tahun. Sang arsitek dibalik

keberhasilan perusahaan Jepang itu - dan selama ini kurang dikenal public di negaranya sendiri -

dihadirkan ke hadapan eksekutif Amerika. Pemikiran Deming begitu memperngaruhi para

pebisnis dan pelopor manajemen kualitas modern Amerika, macam Walter Shewart, Harold

Dodge, dan banyak lagi.

 

Di sisi lain, kesadran yang sama muncul pula di kalangan pemerintah Amerika, khususnya pada

Menteri Perdagangan Amerika, Malcolm Baldrige. Ia dinominasikan menjadi Menteri

Perdagangan oleh Presiden Ronald Reagen 11 Desember 1980, dan mendapatkan persetujuan

Senat 22 Januari 1981. Baldrige menjabat hingga Juli 1987, saat kecelakaan bermain rodeo di

California merenggut nyawanya. Ia merupakan Menteri Perdagangan yang paling lama dan telah

memberikan kontribusi besar terhadap administrasi pemerintahan dan perbaikan ekonomi.

Baldrige berhasil menekan biaya lebih dari 30% dan biaya administrative per pegawai sebesar

25%. Lulusan Universitas Yale ini adalah tokoh yang sangat sepakat dengan pandangan bahwa

manajemen mutu sebagai kunci bagi kesejahteraan dan kekuatan jangka panjang Amerika.

Secara pribadi ia berkeinginan untuk meluncurkan sebuah Akta peningkatan Kualitas dan

membantu menyusun salah satu konsep dasarnya.

 

Akta tersebut sedang bergulir di Kongres Amerika ketika Agustus 1986 senator Don Fuqua

mengajukan usulan Undang-Undang (Bill 5321) tentang National Quality Improvement Award

yang bertujuan untuk mendorong perusahaan Amerika meningkatkan control mutu dan daya

saing. Tahun 1987, Kongres menyetujiu dibutnya program penghargaan (award) untuk

menghargai organisasi di Amerika atas pencapaiannya di bidang mutu dan kinerja sekaligus

meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mutu dan kinerja ekselen sebagai kunci daya saing.

Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Konges dan Pemerintah Amerika mengabadiakn

namanya dalam programpenghargaan tersebut: Malcolm Baldrige National Quality Award

(MBNQA). Tanggal 20 Agustus 1987, Presiden Ronald Reagen menandatangani MBNQA

menjadi Undang-Undang.

 

Peristiwa ini, seperti ditulis Abdul Haris ( sekarang Direktur Jaringan dan Solusi PT

Telekomunikasi Indonesia Tbk) dalam bukunya 7 Pilar Perusahaan Unggul, menjadi tonggak

sejarah yang penting bagi bisnis dn industri Amerika. Tahun 1991, majalah Business Week

bahkan menulis: "Peristiwa ini adalah revolusi global yang mempengaruhi semua bidang bisnis.

Mulai tahun 1990-an dan tahun-tahun selanjutnya, kualitas harus tetap menjadi prioritas utama

dalam bisnis".

Hampir semua perusahaan Amerika kemudian mengadopsi prinsip kualitas ini sehingga daya

saing perusahaan Amerika meningkar kembali. Riset oleh George Stephen menunjukkan adanya

peningkatan pangsa pasar perusahaan di Amerika rata-rata 13,7%; volume penjualan per

karyawan naik rata-rata 8,6%; tingkat pengembalian asset naik sebesar 1,3%.

 

 

Dokumen Paling Berpengaruh

MBQNA tidak diberikan kepada produk atau jasa tertentu. Setiap tahunnya, 3 penghargaan

diberikan kepada masing-masing kategori: manufaktur, jasa, usaha kecil, pendidikan, dan

layanan kesehatan. Kategori pendidikan dan layanan kesehatan diperkenalkan tahun 1999. Buln

oktober 2004, Presiden Bush menandatangani Undang-undang yang memberikan hak kepada

NIST (National Institute of Standards and Technology), sebuah badan di bawah Departemen

Perdagangan, untuk memperluas program MBNQA kepada organisasi nirlaba dan pemerintahan.

Proyek percontohan untuk organisasi nbirlaba dan pemerintahan dimulai 2006, dan penghargaan

akan mulai diberikan 2007.

Sejak dimulainya pemberian penghargaan 1988, Baldrige National Quality Program telah

berkembang dengan sangat meyakinkan. Criteria Baldrige telah memainkan peran yang sangat

berharga utnuk meningkatkan kinerja mereka dengan focus pada 2 tujuan: meningkatkan nilai

bagi pelanggan dn meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan.

Beberapa juta kopi dari Kriteria Baldrige telah didistribusikan semenjak 1988. itu diluar dari

perbanyakan yang dilakukan berbagai organisasi maupun kemudahan akses secara elektronis.

Gordon Black, Chairman dan CEO Haris/Black International Ltd menegaskan, publikasi terkait

dengan Kriteria Baldrige untuk kinerja ekselen agaknya "menjadi dokumen yang paling

berpengaruh dalam sejarah modern bisnis di Amerika."

 

Betapa tidak. Program Baldrige benar-benar meluas diterapkan di Amerika sendiri maupun di

negara-negara lain. Di Amerika saja kini ada 44 program kualitas yang diterapkan di 41 negara

bagian dan disusun berdasarkan Program Baldrige. Jumlah ini melonjak tajam dari kurang dari

10 program kualitas tahun 1991. contoh lain: semenjak 1988, 1063 aplikasi telah dikirimkan

kepada MBNQA dari beragam tipe dan ukuran organisasi untuk mendapatkan penilaian.

MBNQA dan Kriteria Baldrige menjadi centerpiece dari pergerakan kualitas di Amerika Serikat.

Berbagai program mutu nasional telah berkembang di seputar MBNQA dan Kriteria Baldrige.

Sebuah laporan yang dibuat The Private Council on Competitiveness yang berjudul "Building on

Baldrige : American Quality for the 21st Century" menyebutkan: "Lebih dari berbagai program

lainnya, MBNQA bertanggung jawab untuk menjadikan kualitas sebagai prioritas nasional dan

menyebarluaskan praktik terbaik ke seluruh penjuru Amerika Serikat."

Adopsi Malcolm Baldrige Criteria for Perormance Excelence (MBCFPE) secara internasional

pun sangat luar biasa. Saat ini hampir 80 program kualitas berbasis Kriteria Baldrige diterapkan

secara internasional, salah satunya di Jepang yang didirikan 1996. Negara-negara tetangga kita

sudah mengaopsi Kriteria Baldrige dan memberikan penghargaan, seperti Australia (Australian

Business Excelence Award), Selandia Baru (New Zealand Quality Award), Singapura

(Singapore Quality Award), Malaysia (Malaysia Prime Minister Quality Award), Thailand

(Thailand Quality Award), dan Filipina (Philipine Quality Award). Sementara Negara-negara di

Eropa memiliki European Quality Award. Negara-negara tersebut mengadopsi Kriteria Baldrige,

baik secara utuh maupun dengan dimodifikasi serta ada pula yang melakukan perubahan

menyeluruh (seperti Jepang).

 

Cepatnya adopsi MBCFPE oleh perusahaan-perusahaan di luar Amerika menyebabkan

perusahaan-perusahaan Amerika tidak bisa berjalan pelan dalam menerapkan Kriteria Baldrige.

Buktinya, dalam sejumlah area bisnis, pangsa pasar produk perusahaan Jepang dan non Jepang di

Amerika tetap mengalami kenaikan. Tapi inilah yang dinamakan bisnis. Kompetisi terjadi setiap

saat, sehingga seperti yang dikatakan Abdul Haris, Direktur Jaringan dan Solusi Telkom,

continuous improvement saja tidak lagi cukup bila pesaing memiliki tingkat improvement yang

lebih tinggi.

 

"Di sinilah letak kelebihan Kriteria Baldrige.ia bukan hanya sekedar menjamin berlangsungnya

continuous improvement, namun lebih dari itu mendorong perusahaan untuk menjadi yang

terbaik," ujar peraih predikat The Best Executive Divisi Regional V 2002 itu. Dalam Kriteria

Baldrige, kinerja sebuah perusahaan bisa dibandingkan dengan kinerja perusahaan lain yang

sejenis berdasarkan skor (nilai) yang diperolehnya.

Pemberian penghargaan (award) merupakan bagian tak terpisahkan dari diseminasi Kriteri

Baldrige di setiap Negara. Adanay penghargaan yang kredibel memacu upaya peningkatan

kualitas dan kinerja organisasi secara nasional. Penghargaan diberikan atas dasar skor

pencapaian sesuai dengan Kriteria Baldrige. Dan, penilaian ini harus dilakukan oleh lembaga

yang kredibel dengan metode yang juga kredibel. Di Amerika, proses standarisasi, pengawasan

implementasi, proses penilaian hingga pemberian penghargaan dilaksanakan olah NIST. NIST

mengelola program peningkatan mutu secara menyeluruh (the Baldrige National Quality

Program) bekerjasama secara erat dengan pihak swasta.

Berbeda dengan pemberian penghargaan yang sering diadakan di Indonesia, organisasi yang

mendapatkan penghargaan baldrige harus melalui serentetan proses penilaian. Sebuah

perusahaan yang berhak mendapatkan penghargaan setidaknya harus melalui 4 tahapan utama:

Pengajuan Dokumen Aplikasi, Audit Dokumen, Peninjauan Langsung Perusahaan, dan Sidang

Dewan Juri (Board of Examiner).

Setiap tahapan mempunyai persyaratan yang standard an batasan sangat ketat, berupa

persyaratan administrasi maupun panduan penilaian (scoring guideline). Setiap organisasi yang

dinilai harus menunjukkan - melalui fakta dan data - bahwa mereka memiliki system manajemen

kelas dunia dan selalu berusaha meningkatkannya. Sebelum memberikan rekomendasi organisasi

yang berhak menerima penghargaan, pemeriksaan final dilakukan oleh Dewan Juri dengan

mengunjungi organisasi yang dinilai sebagai kandidat penerima.

Selama kunjungan lokasi ini, juri mewawancarai karyawan dan menelaan setiap catatan serta

data. Objektifnya adalah untuk mencocokan informasi yang disampaikan dalam aplikasi dan

jawaban pertanyaan yang muncul dalam kunjungan juri. Percuma saja bagi perusahaan jika

meminta seorang ahli mengisi aplikasi Baldrige bila system manajemennya tidak didukung oleh

fakta dan data.

Nilai akhir dari penilaian pemenuhan Kriteria Baldrige menjadi penentu sejauh mana pencpaian

standar Dunia dari organisasi tersebut. Skor pencapaian Kriteria Baldrige berkisar dari 0 sampai

dengan 1000. Kriteria Baldrige mengklasifikasikan sebuah perusahaan berdasarkan total skor

yang diperoleh: Early Development (0-250), Early Result (251-350), Early Improvement (351-

450), Good Performance (451-550), Emerging Industry Leader (551-650), Industry Leader (651-

750), Benchmark Leader (751-875), dan World Leader ( 876-1000).

Semakin tinggi skornya, semakin ekselen perusahaan dimaksud. Skor bagi perusahaan yang

tergolong ekselen minimal 650. Oleh karena system penilaian dan pihak penilai pencapaian

Kriteria Baldrige memiliki kredibilitas tinggi, maka nilai yang diperoleh sebuah organisasi valid

untuk diperbandingkan dengan nilai yang diperoleh organisasi lain di industri yang sama,

terlepas apakah ia berada di Amerika, Indonesia, Jepang, atau dimana saja. Sebuah perusahaan

yang berkinerja ekselen menurut Kriteria Baldrige dipastikan ekselen bila dibandingkan dengan

perusahaan lainnya, dimanapun ia berada.

Namun demikian, skor dan mendapatkan penghargaan tidak menjadi sasaran dari perusahaan

yang hebat, karena yang lebih penting adalah bagaimana Kriteria Baldrige menjadi darah daging

di seluruh bagian perusahaan. Hal ini ditegaskan oleh Earnest Daevenport, Chairman dan CEO

Eastmen Chemical Company, yang pernah meraih penghargaan MBNQA: "Eastman, seperti

halnya para pemenang Kriteria Baldrige lainnya, tidak menerapkan konsep total manajemen

mutu untuk memenangkan penghargaan. Kami melakukannya agar kami semakin sejahtera dan

tetap bersaing di pasar global."

Kenyataannya, ribuan organisasi di Amerika Serikat menggunakan Kriteria Baldrige untuk

menelaah organisasi dan melakukan peningkatan. Program tersebut telah membantu

menstimulasi gerakan luar biasa untuk meingkatkan kinerja organisasi di Amerika, termasuk

perusahaan, institusi akademis, badan-badan federal, Negara bagian, dan pemerintahan local.

 

Baldrige di Indonesia

Begitu gegap gempita implementasi Kriteria Baldrige dan pemberian penghargaan berbasis

Baldrige di luar negeri, termasuk di Negara-negara tetangga kita, bagaimanadengan Indonesia?

Pengenalan Kriteria Baldrige di Indonesia pertama kalai dilakukan oleh Telkom. Konsekuensi

dari go public dan dual listingnya saham Telkom (di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek New

York) tahun 1996 mengharuskan Telkom untuk membangun system manajemen dan kinerja

berstandar dunia (World Class Operator). Setelah melalui proses pencarian terhadap system

manajemen ekselen tersebut - termasuk mengumpulkan informasi melalui survey terhadap

beberapa perusahaan di Negara-negara Eropa, Singapura, dan Amerika - akhirnya Telkom

memilih Kriteria Baldrige sebagai upaya meraih standar dunia tersebut. Pengadopsian Kriteria

Baldrige di Telkom terjadi mulai tahun 2000.

 

Meski sudah dipelopori oleh Telkom, pengadopsian Kriteria Baldrige oleh organisasi-organisasi

di Indonesia relative lambat. Hal itu juga diakui oleh Bachtiar Simamora, PhD., CEO PT

WEDNet Indonesia yang juga konsultan Baldrige bersertifikasi. "Jumlahnya masih sedikit. Selain

Telkom, yang mulai menerapkan Kriteria Baldrige, antara lain, Pertamina, Krakatau Steel, Sucofindo,

Bank BNI, Wika, dan segelintir BUMN lainnya." Toh ia berharap, pengadopsian Kriteria Baldrige bisa

lebih cepat lagi, baik dari BUMN maupun perusahaan swasta dan organisasi pemerintahan. "Alasannya

sederhana. Kompetisi semakin mengglobal. Tuntutan menjadi organisasi ekselen tidak terelakkan," tambahnya.

 

Hasnil Rsyid, Manajer di Pertamina, mengakui perusahaannya telah mengadopsi Kriteria

Baldrige. "Namun untuk detilnya, hanya direksi yang boleh bicara," katanya saat dihubungi

Human capita. Implementasi Kriteria Baldrige di banka BNI juga telah dimulai tahun 2005,

meskipun kabarnya proses implementasi tersebut berlangsung agak tersendat-sendat. Proses

implementasi Kriteria Baldrige di bank BNI dibantu oleh konsultan dari India, tetapi diduga

konsultan tersebut sedikit menghadapi masalah dalam menstimulir implementasi Kriteria

Baldrige karena beberapa sebab.

 

Untuk menumbuhkan pemahaman terhadap Kriteria Baldrige di kalangan BUMN, tanggal 29

April 2004 PT WEDnet menggandeng Kantor Meneg BUMN dan BUMN Executive Club untuk

menyelenggarakan seminar pengenalan Sistem Baldrige. Sebagai tindak lanjutnya, para CEO

BUMN mendeklarasikan embrio dari Indonesia Quality Award (IQA) for BUMN 22 Juli 2004.

IQA fir BUMN diharapkan menjadi cikal bakal deri IQA secara komprehensif dan berskala

nasional.

Pemberian IQA for BUMN akan memberikan sejumlah manfaat, bagi seluruh stakeholder

BUMN, seperti yang disebutkan dalam buku pedomannya (dan dikutip Abdul Haris). Pertama,

mengetahui tingkat kinerja yang telah dicapai untuk mendorong peningkatan kinerja perusahaan

lebih lanjut. Kedua, memperoleh umpan balik berupa peluang untuk perbaikan sebagai salah satu

upaya untuk meningkatkan kinerja secra berkesinambungan. Ketiga, meningkatkan daya saing

BUMN. Keempat, meningkatkan citra BUMN. Kelima, melengkapi system pengukuran kinerja

BUMN yang berlaku saat ini. Keenam, memberikan penghargaan dan pengakuan kepada BUMN

yang memiliki kinerja ekselen.

Pemberian penghargaan terhadap organisasi berdasarkan Kriteria Baldrige bagian tek

terpisahkan bagi sebuah Negara jika ingin menjadikan mutu dan kinerja ekselen sebagai upaya

membangun daya saing. Berdasarkan praktik di banyak Negara, termasuk di Negara asalnya

Amerika, pemerian penghargaan berbasis Kriteria Baldrige sangat efektif dalam upaya memacu

seluruh organisasi untuk meraih kinerja ekselen. Pada gilirannya, hal itu berdampak pada daya

saing Negara di kancah persaingan global.

 

Abdul Haris dan Bachtiar Simamora berharap, pemerintah segera mengadopsi Kriterie Baldrige

demi kemajuan perusahaan dan Negara Indonesia. Apapun namanya, apakah IQA atau

katakanlah Indonesia Performance Excellence Award (IPEA), yang penting harus ada gerakan

nasional secara sistematis dan dikelola secara professional-independen untuk mengilhami,

mendorong, dn mengayomi gerakan Baldrige di Indonesia. "Kita tertinggal jauh di belakang, dan

harus segera berbuat sesuatu nyata. Waktu yang tersedia  tidak lama lagi," tukas mereka di tempat

terpisah. Abdul Haris menambahkan, "Kita tentu saja tidak ingin pepatah lama yang mengatakan i

t's too late to lock the stable when the horse has been stolen terjadi di negeri ini."

 

Dewasa ini, selain segelintir BUMN, Kriteria Baldrige juga mulai diadopsi oleh Badan Pemeriksaan

Keuangan (BPK) sejak awal 2005. tujuan utamanya agar hsil audit yang

dikeluarkan BPK benar-benar berkualitas dan memberi nilai bagi para penggunanya, khususnya

pihak legislative. Untuk mewujudkan tujun itu, mau tak mau, harus ada sebuah system dan

proses terintegrasi dari hulu ke hilir yang menjamin terwujudnya tujuan tersebut. Menurut Dwi

Setiawan, anggota Tim Perencanaan Strategis BPK, dalam implementasi Kriteria Baldrige, BPK

dibantu oleh konsultan yang didanai oleh USAID. "Implementasinya masih pada fase awal,

tetapi tahapan awareness terus berjalan," tuturnya.

 

Jalan berliku dan panjang, boleh jadi, masih mengahdang Indonesia untuk benar-benar

mengadopsi Kriteria Baldrige. Supaya tidak repot lagi- dan seringkali malah melenceng- ada

baiknya Indonesia mengadopsi Kriteria Baldrige secara utuh dari MBCFPE yang asli dari

Amerika. Maklum, MBCFPE disusun oleh sekitar 400 profesor dan PhD terkemuka di Amerika

sehingga benar-benar komprehensif, valid, dan berkualitas tinggi. Bagi mereka yang eprnah

mempelajari MBCFPE, tak ada keraguan sedikitpun tentang kehebatan Kriteria Baldrige untuk

menghasilkan kinerja ekselen.

 

Sungguh ideal bila seluruh komponen kepemimpinan di negeri ini- pemerintah, perusahaan,

organisasi nirlaba, dan organisasi public- berpikir dalam kerangka Kriteria Baldrige dan

mengadopsinya demi kemajuan bangsa. Toh, kita sudah berada at the poit of no return.